Karya Tulis Mahasiswa
Pengaruh Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) terhadap Kenaikan Berat Badan pada Balita Risiko Stunting Di Kelurahan Watulondo Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang signifikan di Kota Kendari, dengan prevalensi mencapai 24,4% pada tahun 2024. Kelurahan Watulondo mencatat jumlah balita dengan berat badan tidak naik tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu. Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan status gizi balita melalui pemanfaatan pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh program PMT lokal terhadap kenaikan berat badan balita risiko stunting di Kelurahan Watulondo, wilayah kerja Puskesmas Puuwatu.
Metode: Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif analitik dengan desain one group pretest- posttest. Populasi penelitian adalah seluruh balita risiko stunting di Kelurahan Watulondo, dengan jumlah sampel sebanyak 49 balita. Intervensi dilakukan selama 14 hari. Pengukuran sisa makanan dilakukan menggunakan metode visual Comstock. Analisis data menggunakan uji Paired Samples T-Test untuk melihat perbedaan berat badan sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata berat badan yang signifikan secara statistik (p=0,000) dari 12,32 kg menjadi 12,51 kg (kenaikan rata-rata 0,19 kg) setelah intervensi selama 14 hari. Namun, secara klinis, seluruh responden (100%) belum mencapai target kenaikan berat badan minimal yang ditetapkan dalam petunjuk teknis (5 g/kgBB/hari).
Analysis: Analisis metode Comstock menunjukkan bahwa mayoritas sampel (59%) tidak menghabiskan porsi PMT yang diberikan. Faktor penghambat utama meliputi rendahnya daya terima menu, penyakit infeksi penyerta (seperti batuk dan demam), serta kendala distribusi yang dilakukan secara "rapel".
Discussion: Pemberian PMT lokal memberikan pengaruh terhadap perubahan berat badan balita secara statistik, namun belum efektifsecara klinis dalam mencapai target pertumbuhan optimal dalam waktu 14 hari. Diperlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap pola distribusi dan penanganan penyakit penyerta agar intervensi gizi memberikan hasil yang maksimal.
Tidak tersedia versi lain