Karya Tulis Mahasiswa
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI PADA LANSIA UMUR 40-59 TAHUN DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS NAMBO KECAMATAN ABELI SULAWESI TENGGARA
Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Data Dinas Kesehatan Kota Kendari menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Nambo terus meningkat dari 1.099 kasus pada tahun 2023 menjadi 1.873 kasus pada tahun 2025. Tingginya angka kejadian hipertensi diduga berkaitan dengan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat, pola makan yang tidak sehat, serta tingginya asupan natrium dan lemak pada kelompok usia lanjut di wilayah kerja Puskesmas Nambo. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan, pola makan, asupan natrium, dan asupan lemak dengan hipertensi pada lansia usia 40–59 tahun di wilayah kerja UPTD Puskesmas Nambo Kecamatan Abeli, Sulawesi Tenggara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel berjumlah 95 orang lansia usia 40–59 tahun yang dipilih secara proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner pengetahuan hipertensi dan formulir semi food frequency questionnaire (FFQ). Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji korelasi Phi, serta analisis multivariat menggunakan regresi linear berganda dengan tingkat kepercayaan 95% (? = 0,05). Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup (63,2%), pola makan lebih (66,3%), asupan natrium kurang (73,7%), dan asupan lemak cukup (75,8%). Prevalensi hipertensi pada responden mencapai 51,6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan hipertensi (p = 0,194). Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan (p = 0,000), asupan natrium (p = 0,000), dan asupan lemak (p = 0,001) dengan hipertensi. Pada analisis multivariat, ketiga variabel tersebut tetap berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap hipertensi (p < 0,05) dengan nilai R² = 0,372. Variabel pola makan merupakan faktor yang paling dominan (? = -0,374, p = 0,000). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan hipertensi pada lansia (p > 0,05). Sebaliknya, pola makan, asupan natrium, dan asupan lemak berhubungan signifikan dengan hipertensi pada lansia di wilayah kerja UPTD Puskesmas Nambo (p < 0,05). Saran: Lansia diharapkan menerapkan pola makan sehat, membatasi konsumsi garam dan lemak, serta rutin memeriksakan tekanan darah.
Kata Kunci: hipertensi, lansia, pengetahuan, pola makan, asupan natrium, asupan lemak, masyarakat pesisir.
Tidak tersedia versi lain